Hak Kekayaan Intelektual

Hak Kekayaan Intelektual saat ini sedang menjadi isu hangat yang sering diperbincangkan. Hal ini semakin marak dengan banyaknya kasus piracy atau pembajakan karya – karya cipta seniman tanah air sampai pemalsuan barang produksi.

hki-pirate.jpg

Seorang blogger tetangga,Sibermedik(FK UNS) kemarin menyarankan saya untuk membuat suatu tulisan yang berkaitan tentang hukum. Khususnya tentang Hukum Kesehatan lebih tepatnya “Doctor vs Lawyer”, karena saat ini profesi seorang dokter pun tengah menjadi sorotan dengan banyaknya kasus malpraktek. Namun kajian Hukum Kesehatan itu lebih mengarah pada bidang Hukum Pidana dan itu bukan studi kekhususan yang saya pilih. Sedangkan studi kekhususan saya adalah Hukum Ekonomi- -Internasional. Jadi yang akan saya posting sekarang ini seputar Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Intelectual Property Rights yang masih berhubungan dengan Hukum Ekonomi.
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dapat didefinisikan sebagai suatu perlindungan hukum yang diberikan oleh Negara kepada seseorang dan atau sekelompok orang ataupun badan yang ide dan gagasannya telah dituangkan ke dalam bentuk suatu karya cipta (berwujud). Karya Cipta yang telah berwujud tersebut merupakan suatu hak individu dan atau kelompok yang perlu dilindungi secara hukum, apabila suatu temuan (inovasi) tersebut didaftarkan sesuai dengan persyaratan yang ada.

Karya cipta yang berwujud dalam cakupan kekayaan intelektual yang dapat didaftarkan untuk perlindungan hukum yaitu seperti karya kesusastraan, artistik, ilmu pengetahuan (scientific), pertunjukan, kaset, penyiaran audio visual, penemuan ilmiah, desain industri, merek dagang, nama usaha, dll.

hki-usabucks.jpg

hki-not-just-about-dvd-anymore.jpg

HKI juga merupakan suatu hak kekayaan yang berada dalam ruang lingkup kehidupan teknologi, ilmu pengetahuan, maupun seni dan sastra. Pemilikannya bukan terhadap barangnya melainkan terhadap hasil kemampuan intelektual manusianya dan berwujud. Jadi HKI melindungi pemakaian ide, gagasan dan informasi yang mempunyai nilai komersial atau nilai ekonomi.

~ Jenis – Jenis Hak Kekayaan Intelektual ~

1. Hak Cipta (Copyrights)

2. Hak Kekayaan Industry

a. Paten (Patent)

b. Merek (Trademark)

c. Rahasia Dagang (Trade Secrets)

d. Desain Industri (Industrial Design)

e. Tata Letak Sirkuit Terpadu (Circuit Layout)

f. Perlindungan Varietas Tanaman (Plant Variety)

~ Pengaturan Hak Kekayaan Intelektual ~

UU Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta

UU Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten

UU Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek

UU Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang

UU Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri

UU Nomor 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu

UU Nomor 29 Tahun 2000 Tentang Varietas Tanaman

Untuk mengetahui pembahasan lebih jauh dari jenis – jenis Hak Kekayaan Intelektual ini, silahkan mendownload file berikut. Yang merupakan tugas mata kuliah Hukum Hak Kekayaan Intelektual pada Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (UNPAD). Dosen : Prof. Dr. Man Suparman Sastrawidjaja, S.H., SU dalam format .PDF. Semoga infromasi ini bermanfaat :mrgreen:

“Hak Kekayaan Intelektual : Jenis – Jenis dan Pengaturannya”

About these ads

35 Tanggapan

  1. makasih mbak april atas infonya…

    kalau bisa informasinya leih lengkap lagi ya… aq tunggu


  2. @ Ekoindri
    kalo mau yang lebih lengkap
    tinggal buka filenya… udah lihat? :roll:

  3. Thx infonya..yg ku tahu di lapangan g ada yg namanya COPYRIGHT?malah yg ada RIGHT TO COPY?he5x

    btw,jgn masukin nama orang dong?apa gunanya aq pake nama samaran sibermedik kalo kamu pasang namaku diatas?

  4. ow ow… hontou ni sumimasen deshita Sibermedik-san!!
    memang yang dimaksud dengan Copyright adalah “right to copy”, maksudnya adalah hak yang dimiliki oleh seseorang untuk mengumumkan dan memperbanyak suatu ciptaan.
    Sibermedik.. malah ada yang namanya “Copyleft” yang merupakan lawan dari copyright, yang membebaskan segala sesuatu untuk disebarluaskan, diperbanyak, dll. Logonya saja gambar huruf “C” yang terbalik dalam lingkaran. :mrgreen:

  5. @sibermedik:
    halah..nyamar..tp sering kopdaran :)

    krn saya br pertama mampir (kl gak salah ya..)
    hub mb aprilia gayatri dg bali gemana ya.. :)
    salam

  6. @dani
    Hubungan saya dengan bali… ibu saya dari Bali tepatnya di Singaraja.. :mrgreen:
    kalo dr.Dani sendiri bgmana?

  7. pantesan ada nama gayatri-nya..

    saya memang asli bali..lahir di bali, tp ortu campuran bali+jawa :)

    bacaan pdf-nya saya unduh dl..makasi


  8. @dani : wah campuran kita sama donk dok..
    hanya yang dari Jawa itu papa saya.. walhasil nama saya nda menggunakan struktur penamaan bali :roll:

  9. Aprilia,

    kalau kasus fansub gimana?

    http://id-anime.info/index.php?title=Fansub

    Punya tanggapan nggak dari segi hukumnya ?


  10. @ Philip :Masalah Fansub ini berkaitan dengan pengaturan Hak Kekayaan Intelektual yaitu tentang hak cipta (copyrights). Fansub sendiri menurut saya sebenarnya bukan termasuk pelanggaran hukum karena fansub hanyalah kegiatan mengalihbahasakan film2 asing ke dalam bahasanya, dan jika tidak untuk diperjualbelikan jasanya atau untuk memperoleh keuntungan, singkat kata jika hasil terjemahan itu hanya untuk koleksi pribadi. Yang menjadi masalah adalah ketika hasil terjemahan berikut hasil karya ciptanya (filmnya) diperjualbelikan untuk mendapat keuntungan, ataupun hanya sekedar disharing lewat situs2 download yang bisa didownload dengan mudah dan tanpa biaya. Hak Cipta memiliki pengertian adalah hak khusus bagi pencipta maupun penerima hak untuk
    mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu
    dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut Peraturan Perundang-
    undangan yang berlaku. Sehingga jelas disini fansub dari sebuah anime atau film asing lain yang disebarkan dengan tanpa hak dan izin dari pencitanya adalah pelanggaran hukum, kecuali seorang fansub sudah mendapat lisensi dari penciptanya.
    Mungkin ada yang punya pendapat lain? :roll:

  11. Orang Baru, numpang nyoret ^^;
    hmm. boleh juga

    tapi, kalau melihat keadaan sekarang, maksudnya hukum dan undang – undang yang ada di indonesia sekarang ini. HKI hanya akan menjadi sekedar wacana belaka.
    di Indonesia ini ada semacam istilah “Peraturan dibuat untuk dilanggar”
    makanya banyak para pelanggar HKI, tata tertib dlsb.
    begitu
    nah kira – kira solusinya bagaimana tuh….

    maaf yah kalo coretannya ga berguna…..

  12. eeerrrr ku pikir aku akan no comment aja deh tentang masalah ini, karena dalam hidupku tak lepas dari ‘bajakan’ *my confession* ^^;

  13. @Tuyulk3c1l : memang sih keadaan di Indonesia sekarang ini, banyak peraturan yang belum dapat ditegakkan sepenuhnya, tapi bukan berarti peraturan itu dibuat untuk dilanggar… justru karena ada pelanggaran makanya dibuat peraturannya! :roll:

    @Immoz : itu juga yang terjadi pada saya… awalnya niat pingin skripsi tentang HKI.. tapi… dilema jadinya :twisted: hohoho

  14. Di sini masih ada sisi dilematisnya. Seperti contoh:
    1: Kasus di Jepara. Ukiran-ukiran kayu setempat yang sudah turun temurun ternyata telah dipatenkan oleh pengusaha dari luar. Sekarang para pengrajin disuruh membayar Hak Cipta jika meniru ukiran2 tersebut. Padahal motif ukiran tersebut sudah ada di Jepara secara turun temurun sehingga penciptanya pun mungkin sudah meninggal. Kalaupun masih hidup, mungkin ia akan sangat bangga karena hasil karyanya telah menginspirasi banyak orang (mengenai rasa kebanggan ini pernah dibahas di Kompas, tapi lupa tanggalnya)
    2: Tempe yang merupakan khasanah kuliner kita katanya telah dipatenkan oleh Jepang. Masak klo mau bikin tempe musti bayar paten ke Jepang.
    Berarti disini masih ada masalah pada penegakan HAKI. Kekayaan intelektual masyarakat yang merupakan turunan dari pendahulu mereka jadi bisa dirampas oleh orang lain demi kepentingan royalti semata. Perlindungan pada kekayaan intelektual masyarakat ini kan belum ada. Jadi sangat mungkin kekayaan intelektual masyarat ini untuk dirampas. Pencurian ini termasuk pelanggaran HAKI bukan??

  15. @ Proletarman : antara kasus pertama dan kedua ada keterkaitan, meskipun untuk hal yang berbeda… saya coba jawab yaa

    ^^ Untuk kasus pendaftaran hak cipta katalog ukiran Jepara yang dilakukan oleh PT. Harrison & Gil ini jelas sangat merugikan bagi para perajin, karena mereka tidak bisa memakai motif ukiran yang sudah turun temurun digunakan dan menjadi milik umum. Ciptaan yang tidak original dan ciptaan yang sudah menjadi milik umum (public domain) adalah hal yang tidak dapat didaftarkan untuk memperoleh hak cipta. Di kelas hukum HKI juga pernah dibahas kedua masalah ini, seharusnya yang memegang hak cipta untuk folklore (hak cipta atas nama nenek moyang atau regional) adalah pemerintah atau masyarakat Jepara itu sendiri untuk kepentingan bersama, bukan untuk tujuan komersil seperti yang dilakukan Harrison. Lagipula yang didaftarkan oleh Harrison adalah hak cipta untuk “buku” katalognya, bukan motif/desain didalamnya. Menurut DR. Agus Sardjono, jika ia ingin mendapat perlindungan terhadap motif ukiran seharusnya ia mendaftarkannya untuk mendapat perlindungan “desain industri” bukan hak cipta. Apalagi ukiran Jepara adalah warisan budaya dan menjadi hak masyarakat Jepara. Tapi tetap saja akibat katalog tersebut banyak ukiran jepara yang ditolak masuk eropa karena belum membayar royalti.

    ^^Kalau masalah paten tempe oleh Jepang, mungkin disini masih ada salah persepsi, karena yang dipatenkan oleh Jepang adalah metode menghasilkan tempe dengan cara dan bahan yang berbeda dari pembuatan tempe tradisional di Indonesia. Selain itu hak paten atas tempe yang dilakukan Jepang ini tidak didaftarkan di Dirjen HKI Indonesia, jadi seorang pembuat tempe tidak perlu membayar royalti ke Jepang. Didalam pengaturan hak paten ini, siapapun boleh mematenkan sesuatu hal dengan inovasi yang baru. Oleh karena itu Jepang dapat mematenkan produk tempe dengan inovasi baru, yang penting disini adalah adanya unsur ‘kebaruan” (novelty) meskipun untuk produk yang sama/sejenis.

    @_@ kalau melihat kasus kedua dihubungkan dengan keadaan pada kasus pertama, mengapa sampai saat ini tempe, ukiran Jepara, batik, dll belum didaftarkan untuk mendapat perlindungan HKI bisa disebabkan karena hal – hal tersebut adalah sesuatu yang sudah menjadi milik umum (public domain), dan warisan budaya yang sudah turun temurun. Akan menghambat bangsa Indonesia sendiri ketika tempe misalnya, dipatenkan oleh salah satu pihak yang didaftarkan ke Dirjen HKI, maka berapa banyak orang yang ketika akan memproduksi tempe harus membayar royalti kepada pemengang hak paten, sama kejadiannya dengan kasus ukiran Jepara tadi.
    Setahu saya, sekarang sedang disususn UU Folklore, kita lihat saja seberapa efektif perlindungan HKI untuk folklore ini yang diharapkan dapat melindungi warisan budaya.

    **__** :mrgreen: hohoho jadi seperti menjawab soal ujian :lol:
    kalau masih ada yang kurang jelas, silahkan ditanyakan lagi Bli Eka.. semoga saya bisa jawab… :mrgreen:

  16. Tengkyu buat jawaban panjangnya. Sangat disayangkan bahwa lembaga yang ngasi paten tidak mengajukan riset dulu sebelum memberikan hak patennya. Sekarang kan pengrajin Jepara yang dirugikan. Klo dah kejadian seperti itu, bisa digugat hak patennya ga? Biar bisa dibatalkan gitu. Khasanah budaya kita sangat kaya. Tapi belum ada usaha untuk mempatenkannya. Saya sangat prihatin dengan banyaknya “public domain” itu yang malah dipatenkan sama orang luar. Banyak obat2an yang berasal dari Indonesia tapi malah dipatenkan orang lain. Banyak hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan. Tapi disambung lain kali saja. Mudah2an HAKI ini tidak menempatkan kita sebagai penonton karena kekayaan yang tidak kita sadari telah dirampas oleh orang lain.
    Terimakasih

  17. masyarakat kita belum sepenuhnya sadar pentingnya melindungi hasil karya atau ciptaan originil untuk dipatenkan.
    mungkin masyarakt kita banyak ndak tahu kalo ada undang-undang yang melindungi?

  18. @ Proletarman : memang sangat disayangkan budaya dalam negeri yang malah “hak eksklusif”nya jatuh ke tangan orang asing seperti kasus ukiran Jepara itu.
    Jawabannya bisa, dengan keputusan hakim di Pengadilan Niaga

    @ Aprina : Mungkin demikian adanya, banyak masyarakat yang kurang mengerti soal hukum, terlebih lagi menyadari hak mereka atas hasil karyanya. Banyak yang masih khawatir akan biaya yang harus mereka keluarkan untuk mendapatkan perlindungan hukum atas kekayaan intelektualnya.

  19. hai..

    thanks banget buat info2 nya ya..

    saya pengen tanya, kasus-kasus haki yang sekarang ini terjadi apa saja ya??

    contoh2 kasus nya. thanks ^^

  20. @ Vicky : Kasus HaKI itu sangat banyak, bukan saja soal hak cipta atas karya lagu & musik yang saat ini sedang gencar-gencarnya razia barang bajakan.

    Atau kamu pasti sering dengar razia di warnet & rental bahkan perkantoran yang menggunakan microsoft bajakan?
    Microsoft versus Open Office di negara asalnya sana juga sedang bersengketa.

    Kalau di Indonesia, huumm kasus Merek dagang “Prada” yang digunakan oleh pengusaha garmen dan dipasarkan di Bali, pengadilan memutuskan bahwa Prada yang “well known product” dianggap bukan produk terkenal di Indonesia, malah pengusaha bali tersebut yang dimenangkan. fu fu fu… “???!!???!!” :twisted:

  21. thx infonya…
    btw
    knapa ya kasus haki sangat jarang dipublikasikan
    dikoran maupun diinternet ..
    padahal kasus haki lumayan penting..
    gara-gara hak paten aja bill gates jadi orang terkaya…
    hehehe…

  22. saya mau tanya:
    apabila seseorang menuntut ilmu dan membutuhkan buku tapi dia tidak bisa membelinya dan dia memilih fotokopi.apa itu dapat dikatakan melanggar HAKI?cpt bls ya…

  23. thanx buat infonya.
    aku da tugas Pengetahuan Hukum Bisnis dan sedang membahas masalah Hak Cipta. aku da pertanyaan nieh.
    ketika akan mendaftarkan karya kita harus daftar dimana? trus apa syarat2 diterimanya permohonan mendaftar tersebut?
    thanx for your info. i need it immediately

  24. thx banget..ni gue butuh wat kul etika koorporasi

  25. fiiiuuuuh,,,
    ckup b’mamfaat..
    tapi dirikuu sbgai mhasiswi yg baru semester iga, mao tanyaa,,
    kan di daerahku ada kain tapis tuh yang denger2 ama DPRD udah di ajuin RAPERDAnya. nah, setelah baca jawaban mba’ buat comenna proletarman di atas ntu,,
    ciptaan yang sudah menjadi milik UMUM adalah salah satu yang nggak bisa didaftarin hakinya. trus, kain tapis ntu kan didaerahku udah ciptaan yang dipake/dihasilkan secara bersama2 didaerahku. lho, kalo gitu kok ada RAPERDA nya??? emang tar nama atas hak ciptanya masa’ atas nama provinsi lampung? (oiya,aku orang lampung nih mba’)
    hadduuhh,,aku jadi binggung…
    tolong dijawab yoh bu…
    sekalian klo tau dimna yah aku bisa cari tau tentang pematenan hak intelektual bangsa. (contohnya dimana n apa gitu??)
    tarararengkiu yaahhppp…..

    blz kilaaaaaath!!!!!!!!!

  26. apriiiiiiiiiiiiiiiil!!! pa kbR???????/ ni ge ellla tetanggamu wkt kecil di cimangguuuuu!!! miss u skaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiy

  27. oia add fs gw donk di luvly_laniapinkeez@sailormoon.com

  28. saya mau tanya donk…
    ada contoh kasus …….

    jika seseorang (anggaplah namanya Boy) telah menciptakan lagu dari hasil karyanya sendiri, tetapi karena kecerobohannya waktu meng-copy teks lagu itu,dia lupa mengambil teks asli yang masih ada dalam mesin fotokopy tersebut,
    setelah beberapa lama dia baru teringat, akan tetapi teks asli itu sudah tidak ada lagi
    setelah beberapa tahun ternyata lagu itu telah menjadi terkenal,
    Dan yang membuat lagu itu terkenal adalah salah seorang artis ternama, dan dia mengaku bahwa lagu itu dia buat sendiri, padahal ketika diselidiki oleh Boy
    ternyata artis ternama itu tanpa sengaja menemukan teks asli pada saat dia di tempat fotokoy itu, tak lama ketika Boy memeperbanyak teks lagu itu.
    Yang saya tanyakan….
    1. Bagaimana penyelesaian kasus diatas sipandang dari segi HAKI?
    2. Apakah artis ternama itu dapat dikatakan melanggar Haki?dan bagaimana Boy mempertaruhkan hak ciptanya di pengadilan, jika kasus ini diajukan di pengadilan?
    3. jika dilihat dari susut pandang si Artis, apakah Boy dapat dikatakan melanggar Haki, karena si artis menganggap bahwa Boy telah melakukan kebohongan dengan mengakui lagu itu sebenarnya ciptaanya,padahal si Boy tidak memiliki teks asli
    4. Sebenarnya siapakah yang dirugikan dalam kasus ini?padahal Haki itu khan sebenarnya mempunyai manfaat ekonomis.
    regards,
    Panarian Napitupulu
    Fakultas Hukum
    Universitas Bhayangkara

  29. kasih tau saya donk tentang pelanggran desain industri sekaligus contoh gambar desain industri yang bersengketa tersebut baik dari pihak penggugat dan tergugat…
    thx

  30. saya maw tanya bagaimn cara penyelesain perkara desain indusrtri..klo kita menjdi lawyer..?
    thank’s yy

  31. salam kenal. silakan baca artikel yang baru saya tulis tentang Haki-terutama dari sudut pandang Islam. Andai Tiada Hak Intelektual.. di arianiwinda.wordpress.com

  32. nice post, thanks…

    http://kafebuku.com/teknik-reparasi-tv/

  33. Adakah kasus pelanggarana Hak Cipta yang berhasil disidang dan didenda sesuai UU Hak Cipta

  34. Terimakasih atas informasinya :)
    semoga warga indonesia melek haki dan dapat mendaftarkan haki untuk mendapatkan pengakuan.

  35. Yayasan Reproduksi Cipta Indonesia (YRCI).Sebuah karya cipta Anda dapat berupa seni, ilmu pengetahuan, sastra dan lain-lain yang merupakan Hak Kekayaan Intelektual atau sering disebut Intellectual Property Rights.
    Jika Anda menjadi anggota YRCI melalui mendaftarkan diri, Anda dapat memperoleh perlindungan dan royalti atas hasil perbanyakan karya cipta Anda.
    YRCI mendukung dan mendorong kreativitas serta mempromosikan karya kreatif Anda, baik di dalam maupun di luar negeri.

    http://www.yrci.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: