Posisi Indonesia dalam Putaran Perundingan DOHA

Sekilas artikel yang saya posting kali ini masih seputar WTO (World Trade Organization) atau organisasi perdagangan dunia, dan artikel ini masih juga salah satu tulisan yang dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah pada semester 6 ini yang saya ikuti. Berhubung mendekati Ujian Akhir Semester, semoga bermanfaat bagi kawan – kawan.

Perkembangan Perundingan Putaran Doha

Sejak dicanangkannya Doha Development Agenda (DDA), perundingan Putaran Doha telah mengalami banyak pasang surut yang ditandai dengan beberapa kali kemacetan sebagai akibat timbulnya perbedaan yang tajam antara negara – negara kunci dalam perundingan isu – isu contentions, khususnya Pertanian, Non Agricultural Market Access (NAMA) dan jasa. Selain itu, perundingan untuk membahas penekanan aspek pembangunan sebagaimana dimandatkan dalam Doha Development Agenda juga sangat lamban dan sering mengalami berbagai kebuntuan.

Kebuntuan ini disebabkan karena besarnya kepentingan ekonomi negara – negara (baik berkembang maupun maju) terhadap isu – isu pertanian, NAMA, jasa dan pembangunan. Kondisi ini merupakan salah satu faktor utama sulitnya negara – negara anggota, khususnya negara – negara kunci dalam perundingan WTO, untuk merubah posisi pada keempat isu tersebut secara substansial yang pada gilirannya berujung pada macetnya perundingan Putaran Doha

Isu yang paling banyak diangkat dalam perundingan ini adalah mengenai isu pertanian. Perundingan di sektor pertanian meliputi 3 (tiga) isu utama, yaitu Akses Pasar, Subsidi Ekspor dan Subsidi Domestik. Selain tiga isu utama tersebut, perundingan juga membahas isu special and differential treatment yang bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi negara – negara berkembang khususnya dalam mengatasi masalah food security, rural development, dan poverty alleviation.

Ada manfaat yang dapat dirasakan oleh Indonesia sebagai anggota dari WTO dan adapula kerugian mengikuti organisasi ini, terlebih Indonesia masih merupakan negara berkembang yang belum kuat stabilitas perekonomiannya.

Meskipun demikian bukan berarti posisi Indonesia lemah di dalam WTO, hal ini bisa dilihat dari peran aktif Indonesia dalam Putaran Perundingan Doha. Indonesia adalah koordinator dalam kelompok G-33 banyak mengajuka usulan – usulan di berbagai sektor penting seperti sektor pertanian, Akses Pasar Produk Non-Pertanian (NAMA) yaitu dengan mengupayakan pemberian fleksibilitas dalam menetapkan tariff lines. Indonesia yang termasuk ke dalam kelompok NAMA 11, kelompok kunci dalam perundingan, konsisten mengupayakan fleksibilitas bagi negara berkembang dalam modalitas perundingan NAMA. Hingga negara berkembang mendapatkan jangka waktu implementasi penurunan tarif yang lebih lama, pengecualian produk tertentu dari formula penurunan tarif dan pemberlakuan status unbound untuk sejumlah produk tertentu.

Pada isu pembangunan, Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang terlibat dalam pembahasan di bidang “Green Room” tetap berupaya memberikan kontribusinya dengan menyampaikan perbaikan teks, yang memberikan penekanan lebih besar terhadap komitmen negara maju terhadap negara berkembang termasuk least-developed countries (LDCs).

Secara umum, kepentingan negara – negara berkembang banyak terakomodasi dalam Keputusan Dewan Umum WTO tersebut, khususnya pada sektor pertanian dan hal ini sudah merupakan suatu kemajuan yang cukup berarti dalam upaya membentuk suatu sistem perdagangan produk pertanian yang lebih seimbang.

Lebih lanjut… download file berikut ini

Tapi jangan di Plagiat yaa..😉

Posisi Indonesia dan Putaran Perundingan WTO

(Doha Development Agenda)

14 Tanggapan

  1. tak donlot y..
    ndak diplagiat kok😛

  2. hmm…,,
    gak mudeng nih

  3. Amerika spt itu we pertaniannya disubsidi pakai imbargo lagi, lha kok Indonesia takut sama sangsi WTO ya mbak ya

  4. nggak mudeng jugak

  5. @ Hanggadamai : silahkan… sekalian tolong dikritisi, karena saya masih belajar untuk menulis dengan struktur dan aturan yg baik :mrgreen:

    @ R’Kurniawan : nggak mudengnya kenapa? ini bidang kajian yang menyangkut hukum dan perdagangan internasional

    @ Laporan : huum apa ya.. menurut saya, kenapa Indonesia takut dengan sanksi WTO, karena organisasi inilah yang mengatur tentang perdagangan lintas batas negara yang telah diikuti oleh banyak negara di dunia. Jadi apabila WTO memberikan sanksi kepada negara kita misalnya, hal itu malah akan merugikan dan mempersulit Indonesia sendiri. Dampak buruk yang dapat terjadi seperti penolakan produk2 Indonesia, ataupun sebaliknya negara2 anggota tidak mau lagi mengekspor produk negara mereka ke Indonesia, dll.

    @ Yanuar : ……..’sama dengan R’Kurniawan’……….

  6. salam kenal mba,
    tulisan – tulisan mba ini bagus dan bermanfaat sekali. pasti mba aprilia banyak baca ya?
    tambah terus artikel – artikelnya mba!
    semoga kuliahnya sukses, sekarang sudah semester berapa?

  7. @ Deni : Salam kenal juga mas. syukurlah kalau artikel tugas kuliah saya ini bisa bermanfaat. bikin ngeBlog jadi kegiatan yang Positif.😉
    sekarang semester VI mau ke VII

  8. halo… saya sudah baca tapi ada beberapa pertanyaan : 1) Apa INDIKATOR Mbak mengatakan bahwa sejauh ini perundingan pertanian mengakomodasi semua kepentingan negara berkembang? Tidakkah modalitas yang disepakati dalam Uruguay Round yg meliputi tiga pilar : pemotongan subsidi domestik, subsidi ekspor, dan tarif (akses pasar) adalah sebuah modalitas perundingan yang sangat merugikan Indonesia??? Kalau agenda SP dan SSM Indonesia berhasil, itupun masih ada yg kurang seperti : Treatment Zero Cut dan jumlah SP nya sendiri (yg masih telalu sedikit).
    Kepemimpinan Indonesia di G33 hanya untuk perundingan pertanian, bagaimana dengan perundingan industri (NAMA) yg justru kita akan kehilangan tarif banyak?? Fleksibilitas di NAMA masih usulan yg lagi dirundingkan di Mini Ministerial Meeting bulan Juli ini, kalau Indonesia ikut Skenario yg ketiga (Option z) TIDAK AKAN ADA FLEKSIBILITAS.
    2) Green Room bukan bidang Mbak…Justru itu musuhnya WTO sebagai lembaga multilateral, karena dalam Green Room ini akan ada lobi2 (antar negara) di luar sidang. Kalau kita jago lobi, Green Room ini memang bisa dimanfaatkan.
    3) Saya usul, referensi Mbak bukan dari 3 buku itu saja (yg ada di paper), tapi juga buku2 Martin Khor, Daniel Rodrik, buku2 terbitan Third World Network (TWN) dan Zed Book. Oya, ada satu buku juga yg bagus dr Baghirath Lal Das, mantan duta besar India untuk WTO. Bisa jadi alternatif referensi.

    Salam damai,
    Juno

  9. @ Juno : waah senang sekali ada yang mengkritisi paper saya, sehingga saya bisa tahu dimana bagian – bagian yang harus diperbaiki. Terima Kasih banyak mas Juno atas masukannya. Untuk referensi paper ini memang masih terlalu sedikit. Kedepannya saya akan lebih menambah bacaan terutama text book.

    Salam, April

  10. apiiiing… gw neh AU..lupa bogor lo ye?? kagak pernah balik!!!
    buset blog lo rame bener
    eh ya berhubung kita sama-sama nak hukum, gw donlot ye paper lo
    tapi kok hukum ekonomi semua??!! kagak nyambung gw yang beginian neh
    gw kan nak pidana.. bikin dong tulisan seputar hukum pidana
    apaan kek tentang pencurian,pembunuhan,kekerasan thd nyawa,pemidanaan.

    awas lo balik gak ngabarin!! kesepian gw sekarang…

  11. mbak aprilia, wah tulisannya bagus….ayo kita saling tukar informasi dan tukar analisa……mmm….sebetulnya sih kalimat lugasnya bantuin kerjaanku dong..ha..ha..ha…..karena kebetulan aku tugas di Departemen Perdagangan dan Unitku menangani Perundingan WTO bidang rules cuma backgroundku bukan hukum…..bantu aku ya…..thanks

  12. Sistem perdagangan produk pertanian yang seimbang?

    Bagi siapa? Bukan bagi petani tampaknya… 😀

    piss

  13. kepentingan dari negara-negara berkembang tetap saja tidak akan efektif ketika kebijakan negara-negara maju dalam mensubsidi para petaninya tidak terjamah oleh WTO.

    Petani Indonesia sendiri masih harus berjuang di pasar internasional karena menghadapi petani2 negara maju yang bisa memberikan harga jauh lebih murah.

    masih terlalu jauh langkah Indonesia untuk bisa memanfaatkan WTO.

    NB :
    kuliah2 di kampus kita seringkali didominasi dengan materi yang mengagung-agungkan WTO, termasuk para dosennya. sehingga sumber2 alternatif seringkali diabaikan. jadi seperti kata Juno, referensi dari TWN, atau terbitan lokal seperti Insist dan Resist dapat dijadikan pilihan.

  14. wah, terimakasih kk

    saya jadi terbantu dalam landasan pemikiran, no plagiat kok🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: