“Knowledge Economy” dan Dunia yang “Borderless”

Knowledge Economy??? Inilah tema yang diangkat untuk Blogging Competition British Council untuk periode ke 2.

Mungkin istilah ini masih asing, begitu pun untuk saya. Sekilas bisa kita artikan dengan Pengetahuan yang memiliki nilai ekonomi. Setelah melakukan pencarian di Wikipedia, Knowledge Economy adalah ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk dapat menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Kurang lebih bisa diartikan demikian.

Lalu bagaimana suatu ilmu pengetahuan bisa bernilai ekonomi dan memberikan keuntungan? Ilmu pengetahuan seperti apa yang bisa bernilai ekonomi?

Pertanyaan ini mudah saja dijawab, karena banyak hal yang kita pelajari atau banyak ilmu pengetahuan yang kita pelajari dan kita dapat, yang semuanya itu bisa digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi. Saya ingin menghubungkannya dengan bidang studi saya yaitu hukum. Mari kita lihat bagaimana hukum bisa menjadi sesuatu yang penting dalam kegiatan ekonomi.

Berbicara tentang “Pasar Global” tidak lepas dari kegiatan perdagangan internasional, yaitu kegiatan jual beli barang dan jasa yang melintasi batas negara. Perdagangan antar bangsa saat ini semakin berkembang pesat, batas – batas suatu negara dan aturan hukum yang berlaku di negara tersebut bukan lagi menjadi halangan. Hadirnya organisasi perdagangan dunia WTO (World Trade Organization) dengan segala aturan – aturannya menjadikan dunia perdagangan dan aktivitas perekonomian dunia semakin “Borderless“. Negara yang telah menjadi anggota organisasi ini otomatis harus tunduk pada aturan perdagangan internasional dan semua agreement yang telah disepakati.

Sudah jelas tentunya bahwa semua agreement dalam WTO dibuat dalam bahasa Inggris. Disinilah pentingnya penguasaan bahasa Inggris bagi siapapun, baik pelaku kegiatan perdagangan maupun praktisi hukum dalam membuat kontrak, penguasaan bahasa Inggris “is a must“. Dengan penguasaan bahasa internasional ini yang baik kita dapat dengan mudah melakukan kegiatan – kegiatan lintas batas negara. Bagi seorang praktisi hukum, “knowledge” yang paling utama adalah bagaimana ketentuan hukum internasional mengatur aktivitas perdagangan dan perekonomian internasional, bagaimana bentuk kontrak – kontrak yang mendasari aktivitas ini. Tentunya semua itu harus dibuat dalam bahasa yang dimengerti kedua belah pihak, sehingga yang dapat menjembataninya adalah dengan bahasa Inggris.

Sebagai contoh Indonesia telah meratifikasi perjanjian – perjanjian internasional misalnya Agreement on Establishing The World Trade Organization, dengan General Agreement on Tariffs and Trade 1947 (GATT) sebagai aturannya, menjadi UU No 7 Tahun 1994 Tentang Persetujuan Pembentukan WTO. Lalu bagaimana isi dari undang – undang ratifikasi tersebut?

Seperti undang – undang hasil ratifikasi konvensi internasional lainnya, UU No 7 Tahun 1994 ini hanya berisi 2 pasal penting. Pasal 1 menerangkan tentang pengesahan terhadap suatu agreement atau konvensi tersebut yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggris adalah bagian yang tidak terpisahkan. Jadi apabila terdapat kekeliruan atau kesalahpahaman yang berlaku adalah naskah aslinya dalam bahasa Inggris.

Sejak menjadi anggota WTO pada 1994, konsekuensinya adalah Indonesia harus membuka pasarnya seluas – luasnya agar pihak asing dapat masuk ke wilayah negara kita. Pihak asing berhak dan bebas menjual barangnya ke Indonesia. Pihak asing juga boleh menanamkan modalnya di wilayah Indonesia. Tentunya akan dibuat sebuah perjanjian antar kedua belah pihak agar masing – masing mendapat keuntungan dan mengurangi peluang terjadinya kerugian. Meskipun posisi Indonesia di pasar global masih tergolong Negara Sedang Berkembang, yang masih mendapat pengecualian atau perlakuan khusus untuk memudahkan negara seperti Indonesia dapat terlibat dalam pasar global yang tanpa batas. Tapi ada batas waktu tertentu yang diberikan oleh WTO kepada negara sedang berkembang untuk menata perekonomian dalam negerinya, hingga negara tersebut siap bersaing dalam pasar global tanpa ada perlakuan khusus lagi.

Jangan sampai karena kurang penguasaan dalam bahasa Inggris, lantas menghambat aktivitas bangsa Indonesia di pasar global. Jangan pula karena hal itu, bangsa Indonesia dibodohi oleh bangsa lain yang hanya ingin mengambil keuntungan dari kita. Maka didalam kegiatan di pasar global, pengetahuan tentang Hukum dan Bahasa menjadi sesuatu yang penting untuk menunjang kekuatan “bargaining power” bangsa kita menghadapi aktivitas perdagangan dan perekonomian dunia yang semakin borderless.

8 Tanggapan

  1. Beberapa industri Amerika aja ketar ketir dengan pasar bebas ini. Mereka kalah bersaing dengan China. Lalu siapa yang akan diuntungkan dengan adanya pasar bebas ini?? Mungkin kapitalis.. Jadi akan ada kekuasaan kapitalisasi tanpa batas. Kekuasaan yang nantinya akan melebihi keperkasaan suatu negara..

  2. setuju dengan statement terakhir kalau Indonesia harus memperkuat bargaining power ny agar jangan dimanfaatkan oleh negara – negara maju yang hanya ingin mengambil keuntungan. Untuk itu rasanya masih kurang kalau hanya lewat penguasan bahasa, tapi penting juga pembangunan menyeluruh di sektor ekonomi

  3. soal basa inggris itu tidak mutlak. orang2 cina buanyak bgt yg ga bisa basa inggris. mereka pd dg basanya sendiri. kini, cina jd penguasa ekonomi. lalu, orang2 lain yg harus belajar basa cina. di indonesia, bisa saja begitu.

  4. serem. serius bikin merem. hehe. cheers

  5. kayaknya untuk go global bahasa inggris masih lebih dominan mas anton, kalau dibanding bahasa mandarin.
    emang bener kalau sekarang cina semakin merajai pasar, tapi blon jadi bahasa internasional toh

  6. @ Proletarman : Sekarang pun sudah terlihat adanya kekuasaan kapitalis yang mengalahkan kewenangan suatu negara, aturan2 dalam organisasi perdagangan dunia ini misalnya memaksa pemerintah negara anggota untuk tunduk padanya sehingga walaupun kurang menguntungkan tapi itulah konsekuensi keikutsertaan dalam WTO.

    @ Hadi Janitra : yaah bukan cuma bahasa saja sebenarnya, penguasaan bahasa memang penting, tapi itu hanya sebagai perantara kita untuk dapat menyampaikan sesuatu. Yang juga penting dalam bargaining power sudah pasti harus ditunjang dengan elemen hukum yang kuat dan kondisi ekonomi negara yang baik dan mampu bersaing😉

    @ Anton : tren sekarang, belajar bahasa mandarin.. tapi baru belajar sebentar banyak yang menyerah *termasuk saya dkk* 😆 saya malah lebih memilih belajar bahasa Jepang, disamping bhs inggris.

    @ Lodegen : walau seram, harus dihadapi:mrgreen:

    @ Ega : belajar bahasa apapun itu sama2 penting dan pastinya akan bermanfaat… meskipun hanya tahu “xie xie”🙄

  7. ekonomi memang biki keriting ini rambut, entah kayak apa otak kita melihat , meanalisa mendengar para pakar ekonomi.
    http://212baca.wordpress.com/2008/07/06/cerpen-bahasa-arab-memories-of-you-1/
    hebat dehh………
    ekonomi harusnya mampu memberi perekonomian bagi orang lain tapi dimonopoli oleh dirinya sendiri. anehhhhhh.

  8. Berdagang per bahasa…

    Dulu, gara-gara perdagangan inggris yang sangat kuat (dan kolonialismenya, omong-omong) bahasa Ing menyebar ke mana-mana. Sekarang, seperti kata mbak aprilia, bahasa ini sudah jadi bahasa wajib perdagangan.

    Lucu ngga mba’? Tanpa punya pilihan, kita harus bisa berbahasa Inggris untuk berkompetisi

    Lebih lucu lagi, kemarin dulu saya pernah baca artikel yang bilang bahasa China sudah menjadi bahasa kedua di internet. Karena banyak orang China yang jadi diaspora dan berkomunikasi via internet dalam bahasa ibu mereka.

    Lucunya… artikel itu bilang, bahasa China akan menjadi bahasa perdagangan beberapa tahun ke depan. Lagi-lagi kita nggapunya pilihan…

    Hingga batas-batas tertentu, globalisasi membuat dunia seakan ‘borderless’. Tapi itu ngga menghentkan saya merasa terkukung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: